BAB II
PEMBAHASAN
A. Ciri-Ciri Tes
Hasil Belajar Yang Baik
Setidak-tidaknya
ada empat ciri atau karakteristik yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar,
sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik, yaitu : 1. Valid,
2. Reliabel, 3. Obyektif, 4. Praktis.
Ciri pertama
dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat valid ateu memiliki validitas. Kata valid sering diartikan dengan :
tepat, benar, shahih, absah. Jadi kata validitas dapat diartikan dengan
ketepatan, kebenaran, keshahihan atau keabsahan. Apabila kata valid itu
dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur, maka sebuah tes dikatakan
valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara shahih
atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi, tes hasil
belajar dapat dinyatakan valid apabila tes hasil belajar tersebut (sebagai alat
pengukur keberhasilan belajar peserta didik) dengan secara tepat, benar, shahih,
atau absah telah dapat mengukur atau mengungkap hasil belajar yang telah
dicapai oleh peserta didik, setelah mereka menempuh proses hasil belajar
mengajar dalam jangka waktu tertentu.
Ciri kedua
dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa tes hasil belajar tesebut telah
memiliki reliabilitas atau bersifat reliabel. Kata “reliabilitas” sering
diterjemahkan dengan keajegan (stability) atau kemanta pan (consistency).
Apabila istilah tersebut dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur
mengenai keberhasilan belajar peserta didik, maka sebuah tes hasil belajar
dapat dapat dinyatakan reliabel (reliable) apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara
berulangkali terhadap subjek yang sama, senantiasa menunjukan hasil yang tetap
sama atau sifatnya ajeg dan stabil. Dengan demikia suatu ujian dikatakan telah
memiliki reliabilitas (daya keajegan mengukur) apabila skor-skor atau
nilai-nilai yang diperoleh para peserta ujian untuk pekerjaan ujiannya, adalah
stabil kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja ujian itu dilaksanakan,
diperiksa dan dinilai.
Dari
uraian diatas dapat dipahami bahwa rinsip reliabilitas akan menyangkut
pertanyaan : “Seberapa jauhkah pengukuran yang dilakukan secara berulangkali
ter hadap subjek atau kelompok subjek
yang sama, memberikan hasil-hasil yang relatif tidak mengalami perubahan.” Bila
hasil-hasil yang diperoleh selalu sama (setidak-tidaknya mendekati sama), maka
dapat dikatakan bahwa alat pengukur berupa tes tersebut telah memiliki
reliabilitas yang tinggi. Jadi prinsip reliabilis menghendaki adanya keajegan
dari hasil pengukuran yang berulang-ulang terhadap seseorang subjek atau
sekelompok subjek yang sama, dengan catatan bahwa subjek-subjek yang diukur itu
tidak mengalami perubahan-perubahan.
Guna
mengetahui, apakah sebuah tes hasil belajar telah memiliki reliabilitas yang
tinggi ataukah rendah, dapat digunakan tiga jenis pendekatan yaitu,
1.Pendekatan single tes, 2.Pendekatan test retest, dan 3.Pendekatan alternate
forms.
Ciri ketiga
dari tes hasil belajar yang baik adalah, bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat obyektif. Dalam hubungan ini
sebuah tes hasil belajar dapat dikatakan sebagai tes hasil hasil belajar yang
obyektif, apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan “menurut apa adanya”.
Ditinjau dari segi isi atau materi tesnya, maka istilah “apa adanya” itu
mengandung pengertian bahwa materi tes tersebut adalah diambilkan atau
bersumber dari materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai atau
sejalan dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditemukan. Bahan
pelajaran yang telah diberikan atau diperintahkan untuk dipelajari oleh peserta
didik itulah yang dijadikan acuan dalam pemuatan atau penyusunan tes hasil
belajar tersebut. Ditilik dari segi pemberian skor dan penentuan nilai hasil
tesnya, maka dengan istilah “apa adanya” itu terkandung pengertian bahwa
pekerjaan koreksi, pemberian skor dan penentuan nilainya terhindar dari
unsur-unsur subyektivitas, yang melekat dalam diri penyusun tes. Disini tester
harus bisa mengeleminir sejauh mungkin kemungkinan-kemungkinan munculnya “hallo
effect” seperti jawaban soal dengan tulisan yang baik mendapat skor lebih
tinggi daripada jawaban soal yang tulisannya jelek, padahal jawaban tersebut
sama. Demikian pula “kesan masa lalu” dan lain-lain harus disingkirkan
jauh-jauh sehingga tes hasil belajar tersebut menghasilkan nilai-nilai yang
obyektif.
Ciri keempat
dari tes hasil belajar yang baik ialah, bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat praktis (practicability) dan ekonomis. Bersifat praktis mengandung
pengertian bahwa tes hasil belajar tersebut dapat dilaksanaka dengan mudah,
karena tes itu :
a. Bersifat
sederhana, dalam arti tidak memerlukan peralatan yang banyak atau peralatan
yang sulit pengadaannya.
b. Lengkap,
dalam arti bahwa tes tersebut telah dilengkapi dengan petunjuk mengenai cara
menegerjakannya, kunci jawabannya dan pedoman scoring serta penentuan nilainya.
Bersifat ekonomis mengandung pengertian bahwa tes hasil belajar tersebut tidak
memakan waktu yang panjang dan tidak memerlukan tenaga serta biaya yang banyak.
B. Prinsip-Prinsip
Dasar Dalam Penyusunan Tes Hasil Belajar
Ada
beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar
agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khususu untuk mata
pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan
peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit
pengajaran tetentu.
Pertama,
tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning
outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Kejelasan
mengenai pengukuran hasil belajar yang dikehendaki akan memudahkan bagi guru
dalam menyusun butir-butir soal tes hasil belajar.
Kedua,
butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif
dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan., sehingga dapat dianggap
mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik
mengikuti suatu unit pengajaran.
Ketiga,
bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi,
sehingga betul-betul cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai
dengan tujuan tes itu sendiri. Untuk mengukur hasil belajar yang berupa
keterampilan misalnya, tidak tepat alau hanya menggunakan soal-soal yang
berbentuk essay test yang jawabannya hanya memguraikan dan bukan melakukan atau
mempraktekan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur kemampuan menganalisis suatu
prinsip, tidak cocok jika digunakan butir-butir soal yang berbentuk objective
test yang pada dasarnya hanya mengungkap daya ingat oeserta didik.
Keempat,
tes hasil belajar harus didesainsesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh
hasil yang diinginkan. Pernyataan tersebut mengandung makna, bahwa desain tes
hasil belajar harus disusun relevan dengan kegunaan yang dimiliki oleh
masing-masing jenis tes. Desain dari placement tes (yaitu tes yang digunakan
untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis program
pendidikan tertentu). Sudah barang tentu akan berbeda dengan desain dari
formative test (yaitu tes yang digunakan untuk mencari umpan balik guna
memperbaiki proses pembelajaran, baik bagi guru maupun bagi siswa), dan
summative test (yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai
dimana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan da
selanjutnya untuk menetukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang
bersangkutan). Demiikan pula desain dari diagnostic test (yaitu tes yang digunakan dengan tujuan untuk
mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa, seperti latar belakang psikologis
, fisik dan lingkungan sosial ekonomi siswa). Tentu akan berbeda pula dengan
tiga jenis tes yang telah disebutkan diatas.
Kelima,
tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan. Artinya
setelah tes hasil belajar itu dilaksanakan berkali-kali terhadap subjek yang
sama, hasilnya selalu sama atau relatif sama. Dengan demikian tes hasil belajar
itu hendaknya memiliki keajegan hasil pengukuran yang tidak diragukan lagi.
Keenam,
tes hasil belajar disamping harus dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar
siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna
untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar