Tak usah pacaran
Jika benar-benar cinta dan sayang
Tak usah pacaran
Jika engkau mengharapkan dia untuk menjadi milikmu
Tak usah pacaran
Jika tidak ingin saling tersakiti
Tak usah pacaran
Jika tidak ingin bergelimang dosa
Tak usah pacaran
Jika tidak ingin cinta berubah menjadi musibah . . . .
Kini sudah waktunya kita berbenah diri
Merefleksi jati diri
Ingatlah wahai diri . . .
Cinta bukanlah musibah
Cinta bukanlah sebuah tangisan
Cinta bukanlah luka
Cinta bukanlah kebohongan
Tapi cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Maha Kuasa
Maka janganlah engkau rusak hakikat cinta itu
Jagalah cintamu dengan penuh keyakinan
Bersabarlah ...
Tunggulah hingga tiba waktunya nanti
Dan berdo'alah agar cinta itu bisa membuatmu menjadi lebih dekat dengan Sang Pemilik Cinta . . .
Cirebon, 25 Januari 2016
Sekar Pena Berbagi Inspirasi
Minggu, 24 Januari 2016
Penantian Berbuah Syurga
Ketika cinta menghampiriku
Aku tidak bisa menolak semua itu
Karena ku sadar
Bahwa rasa cinta adalah anugerah dari Sang Maha Pencipta
Cinta memberikan kekuatan dalam hidupku
Cinta memberikan kesejukan dalam hidupku
Cinta ibarat pelita dalam gelapnya malam
Dan cinta ibarat mawar merah yang tumbuh segar di tepi jalan
Namun, ku sadar cinta yang saat ini kurasakan bukanlah cinta sesungguhnya
Karena, cinta ini masih terbatasi oleh sebuah penghalang
Aku bukan miliknya dan dia bukanlah milikku
Aku dan dia belumlah menjadi kami
Aku dan dia masih belum halal . . .
Kini aku hanya bisa menunggu
Menunggunya di dalam penantianku
Menyebut namanya dalam setiap do'aku
Mendo'akan yang terbaik untuknya dan untukku
Ku serahkan semuanya kepada-Mu
Ku titipkan dia kepada-Mu
Ku berharap Engkau satukan kami diwaktu yang tepat
Aku sangat yakin Kepada-Mu
Tidak ada yang mustahil Bagi-Mu
Kini aku kembali menyusuri jalan hidup ini
Sendiri dengan penuh keyakinan dan untaian do'a
Ku belajar untuk melepaskannya
Meskipun itu pahit untuk kurasakan
Robbi.....
Dekatkan aku dengan-Mu
Pelukklah hamba-Mu yang lemah ini
Agar aku bisa merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hati
Aku yakin suatu saat nanti Engkau akan satukan kami diwaktu yang indah
Dan aku pun yakin kelak Engkau akan kirimkan seseorang yang Terbaik yang bisa menjadikanku perempuan yang sholehah, yang bisa menuntunku dalam lembah kebahagiaan di dunia & akhirat. Aamiin. . .
2Cirebon, 25 Januari 2016
Aku tidak bisa menolak semua itu
Karena ku sadar
Bahwa rasa cinta adalah anugerah dari Sang Maha Pencipta
Cinta memberikan kekuatan dalam hidupku
Cinta memberikan kesejukan dalam hidupku
Cinta ibarat pelita dalam gelapnya malam
Dan cinta ibarat mawar merah yang tumbuh segar di tepi jalan
Namun, ku sadar cinta yang saat ini kurasakan bukanlah cinta sesungguhnya
Karena, cinta ini masih terbatasi oleh sebuah penghalang
Aku bukan miliknya dan dia bukanlah milikku
Aku dan dia belumlah menjadi kami
Aku dan dia masih belum halal . . .
Kini aku hanya bisa menunggu
Menunggunya di dalam penantianku
Menyebut namanya dalam setiap do'aku
Mendo'akan yang terbaik untuknya dan untukku
Ku serahkan semuanya kepada-Mu
Ku titipkan dia kepada-Mu
Ku berharap Engkau satukan kami diwaktu yang tepat
Aku sangat yakin Kepada-Mu
Tidak ada yang mustahil Bagi-Mu
Kini aku kembali menyusuri jalan hidup ini
Sendiri dengan penuh keyakinan dan untaian do'a
Ku belajar untuk melepaskannya
Meskipun itu pahit untuk kurasakan
Robbi.....
Dekatkan aku dengan-Mu
Pelukklah hamba-Mu yang lemah ini
Agar aku bisa merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hati
Aku yakin suatu saat nanti Engkau akan satukan kami diwaktu yang indah
Dan aku pun yakin kelak Engkau akan kirimkan seseorang yang Terbaik yang bisa menjadikanku perempuan yang sholehah, yang bisa menuntunku dalam lembah kebahagiaan di dunia & akhirat. Aamiin. . .
2Cirebon, 25 Januari 2016
ANTARA PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Aku tahu hidup itu perjuangan
Tapi perjuangan yang seperti apa?
Aku tahu hidup itu perjalanan
Tapi perjalanan yang seperti apa?
Aku bodoh tak mengerti PERJUANGAN dan PERJALANAN
Aku seperti anak ayam yang hanya berjalan mengikuti induknya
Tidak ..... Tidakkkkkk
Stoppppp. . .
Aku tak seperti itu......
Aku Pandai
Aku Cerdas
Aku mengerti apa arti PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Aku bisa menjelaskan semua itu dengan rentetetab penjelasan yang rinci
Tapi tunggu . . .
Ku rasa aku belum menemukan semua itu
Aku belum merasakan sepenuhnya oahit getirnya PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Ku rasa inilah saatnya harus ku jelajahi sebuah PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Agar ku mengeri apa arti KEHIDUPAN yang SESUNGGUHNYA . . .
BISMILLLAH
ALLAHU AKBAR
Cirebon, 25 Januari 2016
Tapi perjuangan yang seperti apa?
Aku tahu hidup itu perjalanan
Tapi perjalanan yang seperti apa?
Aku bodoh tak mengerti PERJUANGAN dan PERJALANAN
Aku seperti anak ayam yang hanya berjalan mengikuti induknya
Tidak ..... Tidakkkkkk
Stoppppp. . .
Aku tak seperti itu......
Aku Pandai
Aku Cerdas
Aku mengerti apa arti PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Aku bisa menjelaskan semua itu dengan rentetetab penjelasan yang rinci
Tapi tunggu . . .
Ku rasa aku belum menemukan semua itu
Aku belum merasakan sepenuhnya oahit getirnya PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Ku rasa inilah saatnya harus ku jelajahi sebuah PERJUANGAN DAN PERJALANAN
Agar ku mengeri apa arti KEHIDUPAN yang SESUNGGUHNYA . . .
BISMILLLAH
ALLAHU AKBAR
Cirebon, 25 Januari 2016
Menjemput Asa
Menjemput Asa
Dimana aku berlari mengejar langkah yang tak pasti
Ingin ku bersandar dan bersujud pada-Mu. . .
Meluapkan segala resah di hati
Namun apalah daya, hanya bisa merintih mengangis dalam hati
Tapi aku alan tetap melanjutkan perjalanan hidup ini
Meskipun ku tahu semua itu tak mudah untuk ku lewati
Ya Ghoffarr......
Ku titikan diriku ini
Bersama berjuta asa yang ada dalam hati
Berharap sinar mentari kan datang menghampiriku . . .
Cirebon, 25 Januari 2016
By
Sekar Wulan
Dimana aku berlari mengejar langkah yang tak pasti
Ingin ku bersandar dan bersujud pada-Mu. . .
Meluapkan segala resah di hati
Namun apalah daya, hanya bisa merintih mengangis dalam hati
Tapi aku alan tetap melanjutkan perjalanan hidup ini
Meskipun ku tahu semua itu tak mudah untuk ku lewati
Ya Ghoffarr......
Ku titikan diriku ini
Bersama berjuta asa yang ada dalam hati
Berharap sinar mentari kan datang menghampiriku . . .
Cirebon, 25 Januari 2016
By
Sekar Wulan
Minggu, 26 April 2015
Evaluasi Pembelajaran ;)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ciri-Ciri Tes
Hasil Belajar Yang Baik
Setidak-tidaknya
ada empat ciri atau karakteristik yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar,
sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik, yaitu : 1. Valid,
2. Reliabel, 3. Obyektif, 4. Praktis.
Ciri pertama
dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat valid ateu memiliki validitas. Kata valid sering diartikan dengan :
tepat, benar, shahih, absah. Jadi kata validitas dapat diartikan dengan
ketepatan, kebenaran, keshahihan atau keabsahan. Apabila kata valid itu
dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur, maka sebuah tes dikatakan
valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara shahih
atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi, tes hasil
belajar dapat dinyatakan valid apabila tes hasil belajar tersebut (sebagai alat
pengukur keberhasilan belajar peserta didik) dengan secara tepat, benar, shahih,
atau absah telah dapat mengukur atau mengungkap hasil belajar yang telah
dicapai oleh peserta didik, setelah mereka menempuh proses hasil belajar
mengajar dalam jangka waktu tertentu.
Ciri kedua
dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa tes hasil belajar tesebut telah
memiliki reliabilitas atau bersifat reliabel. Kata “reliabilitas” sering
diterjemahkan dengan keajegan (stability) atau kemanta pan (consistency).
Apabila istilah tersebut dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur
mengenai keberhasilan belajar peserta didik, maka sebuah tes hasil belajar
dapat dapat dinyatakan reliabel (reliable) apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara
berulangkali terhadap subjek yang sama, senantiasa menunjukan hasil yang tetap
sama atau sifatnya ajeg dan stabil. Dengan demikia suatu ujian dikatakan telah
memiliki reliabilitas (daya keajegan mengukur) apabila skor-skor atau
nilai-nilai yang diperoleh para peserta ujian untuk pekerjaan ujiannya, adalah
stabil kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja ujian itu dilaksanakan,
diperiksa dan dinilai.
Dari
uraian diatas dapat dipahami bahwa rinsip reliabilitas akan menyangkut
pertanyaan : “Seberapa jauhkah pengukuran yang dilakukan secara berulangkali
ter hadap subjek atau kelompok subjek
yang sama, memberikan hasil-hasil yang relatif tidak mengalami perubahan.” Bila
hasil-hasil yang diperoleh selalu sama (setidak-tidaknya mendekati sama), maka
dapat dikatakan bahwa alat pengukur berupa tes tersebut telah memiliki
reliabilitas yang tinggi. Jadi prinsip reliabilis menghendaki adanya keajegan
dari hasil pengukuran yang berulang-ulang terhadap seseorang subjek atau
sekelompok subjek yang sama, dengan catatan bahwa subjek-subjek yang diukur itu
tidak mengalami perubahan-perubahan.
Guna
mengetahui, apakah sebuah tes hasil belajar telah memiliki reliabilitas yang
tinggi ataukah rendah, dapat digunakan tiga jenis pendekatan yaitu,
1.Pendekatan single tes, 2.Pendekatan test retest, dan 3.Pendekatan alternate
forms.
Ciri ketiga
dari tes hasil belajar yang baik adalah, bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat obyektif. Dalam hubungan ini
sebuah tes hasil belajar dapat dikatakan sebagai tes hasil hasil belajar yang
obyektif, apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan “menurut apa adanya”.
Ditinjau dari segi isi atau materi tesnya, maka istilah “apa adanya” itu
mengandung pengertian bahwa materi tes tersebut adalah diambilkan atau
bersumber dari materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai atau
sejalan dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditemukan. Bahan
pelajaran yang telah diberikan atau diperintahkan untuk dipelajari oleh peserta
didik itulah yang dijadikan acuan dalam pemuatan atau penyusunan tes hasil
belajar tersebut. Ditilik dari segi pemberian skor dan penentuan nilai hasil
tesnya, maka dengan istilah “apa adanya” itu terkandung pengertian bahwa
pekerjaan koreksi, pemberian skor dan penentuan nilainya terhindar dari
unsur-unsur subyektivitas, yang melekat dalam diri penyusun tes. Disini tester
harus bisa mengeleminir sejauh mungkin kemungkinan-kemungkinan munculnya “hallo
effect” seperti jawaban soal dengan tulisan yang baik mendapat skor lebih
tinggi daripada jawaban soal yang tulisannya jelek, padahal jawaban tersebut
sama. Demikian pula “kesan masa lalu” dan lain-lain harus disingkirkan
jauh-jauh sehingga tes hasil belajar tersebut menghasilkan nilai-nilai yang
obyektif.
Ciri keempat
dari tes hasil belajar yang baik ialah, bahwa tes hasil belajar tersebut
bersifat praktis (practicability) dan ekonomis. Bersifat praktis mengandung
pengertian bahwa tes hasil belajar tersebut dapat dilaksanaka dengan mudah,
karena tes itu :
a. Bersifat
sederhana, dalam arti tidak memerlukan peralatan yang banyak atau peralatan
yang sulit pengadaannya.
b. Lengkap,
dalam arti bahwa tes tersebut telah dilengkapi dengan petunjuk mengenai cara
menegerjakannya, kunci jawabannya dan pedoman scoring serta penentuan nilainya.
Bersifat ekonomis mengandung pengertian bahwa tes hasil belajar tersebut tidak
memakan waktu yang panjang dan tidak memerlukan tenaga serta biaya yang banyak.
B. Prinsip-Prinsip
Dasar Dalam Penyusunan Tes Hasil Belajar
Ada
beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar
agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khususu untuk mata
pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan
peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit
pengajaran tetentu.
Pertama,
tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning
outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Kejelasan
mengenai pengukuran hasil belajar yang dikehendaki akan memudahkan bagi guru
dalam menyusun butir-butir soal tes hasil belajar.
Kedua,
butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif
dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan., sehingga dapat dianggap
mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik
mengikuti suatu unit pengajaran.
Ketiga,
bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi,
sehingga betul-betul cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai
dengan tujuan tes itu sendiri. Untuk mengukur hasil belajar yang berupa
keterampilan misalnya, tidak tepat alau hanya menggunakan soal-soal yang
berbentuk essay test yang jawabannya hanya memguraikan dan bukan melakukan atau
mempraktekan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur kemampuan menganalisis suatu
prinsip, tidak cocok jika digunakan butir-butir soal yang berbentuk objective
test yang pada dasarnya hanya mengungkap daya ingat oeserta didik.
Keempat,
tes hasil belajar harus didesainsesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh
hasil yang diinginkan. Pernyataan tersebut mengandung makna, bahwa desain tes
hasil belajar harus disusun relevan dengan kegunaan yang dimiliki oleh
masing-masing jenis tes. Desain dari placement tes (yaitu tes yang digunakan
untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis program
pendidikan tertentu). Sudah barang tentu akan berbeda dengan desain dari
formative test (yaitu tes yang digunakan untuk mencari umpan balik guna
memperbaiki proses pembelajaran, baik bagi guru maupun bagi siswa), dan
summative test (yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai
dimana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan da
selanjutnya untuk menetukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang
bersangkutan). Demiikan pula desain dari diagnostic test (yaitu tes yang digunakan dengan tujuan untuk
mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa, seperti latar belakang psikologis
, fisik dan lingkungan sosial ekonomi siswa). Tentu akan berbeda pula dengan
tiga jenis tes yang telah disebutkan diatas.
Kelima,
tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan. Artinya
setelah tes hasil belajar itu dilaksanakan berkali-kali terhadap subjek yang
sama, hasilnya selalu sama atau relatif sama. Dengan demikian tes hasil belajar
itu hendaknya memiliki keajegan hasil pengukuran yang tidak diragukan lagi.
Keenam,
tes hasil belajar disamping harus dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar
siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna
untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.
Cooperative Learning :)
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi
pembangunan suatu Negara. Dalam penyelenggaraannya, pendidikan di sekolah yang
melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan
dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam
konteks ini, guru dituntut untuk membentuk suatu perencanaan kegiatan
pembelajaran sistematis yang berpedoman pada kurikulum yang saat itu digunakan.
Pada pelaksanaannya dilapangan, proses pembelajaran yang ada masih banyak
menerapkan metode konvensional dengan menggunakan ceramah dalam menyampaikan
materi. Sehingga dengan metode ini siswa hanya akan mendengarkan materi yang
disampaikan oleh guru. Dapat dikatakan siswa menjadi individu yang pasif.
Sementara itu, kurikulum yang ada saat ini (KTSP) menuntut siswa yang
berperan aktif dalam membangun konsep dalam diri. Jadi menurut KTSP kegiatan
belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya
agar suasana kelas menjadi hidup.
Oleh karena itu, guru perlu mengetahui serta memahami suatu model pembelajaran
lain yang sesuai digunakan pada kurikulum yang ada sekarang ini (KTSP). Salah
satu model tersebut adalah model pembelajaran cooperative learning yang akan
dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.
Dalam dunia pendidikan
pembelajaran cooperative telah memiliki sejarah yang panjang sejak zaman dahulu
kala, para guru telah mendorong siswa-siswa mereka untuk bekerja sama dalam
tugas-tugas kelompok tertentu dalam diskusi, debat, atau pelajaaran tambahan.
Menurut beberapa ahli bahwa cooperative learning tidak hanya unggul dalam
membantu siswa memahami konsep yang sulit, akan tetapi sangat berguna untuk
menumbuhkan berfikir kritis.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut :
1. Apa pengertian
dari model pembelajaran cooperative learning dan ruang lingkupnya?
- Bagaimana model-model pembelajaran cooperative learning?
- Bagaimana sintak dalam model pembelajaran cooperative learning?
- Bagaimana model evaluasi belajar cooperative learning?
- Bagaimana pengelolaan kelas dalam model pembelajaran cooperative learning?
- Apa saja peran guru dalam model pembelajaran cooperative learning?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan yang akan dicapai dalam makalah
ini adalah :
- Mengetahui pengertian dari model pembelajaran cooperative learning dan ruang lingkupnya.
- Mengetahui model-model pembelajaran cooperative learning.
- Mengetahui sintak dalam model pembelajaran cooperative learning.
- Mengetahui model evaluasi belajar cooperative learning.
- Mengetahui pengelolaan kelas dalam model pembelajaran cooperative learning.
- Mengetahui peran guru dalam model pembelajaran cooperative learning.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Cooperative Learning
Cooperative
Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau
perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur
kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat
kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman
mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga
untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai
keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil
memahami dan melengkapinya.
Prinsip model pembelajaran
kooperatif yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab
perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi
proses kelompok (Lie, 2000).
Manfaat dari Cooperative Learning
antara lain: meningkatkan aktivitas belajar siswa dan prestasi akademiknya, membantu
siswa dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara lisan,
mengembangkan keterampilan sosial siswa, meningkatkan rasa percaya diri
siswa, membantu meningkatkan hubungan positif antar siswa.
Model pembelajaran kooperatif
memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori pembelajaran sosial.
Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan
peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik selama
aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak
ditransfer begitu saja oleh guru kepada peserta didik, tetapi peserta didik
difasilitasi dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dalam
kelompok, dengan guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan
sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi peserta didik, pembimbing
peserta didik dalam belajar kelompok, pemberi motivasi peserta didik dalam
memecahkan masalah, dan sebagai pelatih peserta didik agar memiliki
ketrampilan kooperatif.
Pembelajaran
cooperative learning bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi
sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru
untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan tertentu.
Beberapa pakar
pendidikan mendefinisikan cooperative learning, sebagai berikut :
a.
Menurut
Salvin (1995)
Mengemukakan
bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang mana system
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang
secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siwa lebih semangat dalam belajar.
b.
Menurut
Anite lie (2000)
Mengemukakan bahwa cooperative
learning adalah pembelajaran gotong-royong yang mana system
pembelajarannyamemberi kesempatan peserta didik untuk bekerja sama denagn
peserta lain dalam tugas-tugas yang terstruktur (tugas yang telah ditentukan)
c.
Menurut
Azizah (1998)
Menyatakan bahwa cooperative learning
merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara
kolaboratif dalam mencapai tujuan.
B. Tujuan Cooperative Learning
Cooperative learning
mempunyai tujuan pembelajaran yang penting seperti yang di resume oleh ibrahim
(2000) yaitu:
1. Mencapai
hasil belajar berupa prestasi akademik yakni meningkatkan nilai siswa pada
belajar akademik dan perubahan normal yang berhubungan dengan hasil belajar.
2. Dapat
menerima secara luas dari orang yang berbeda berdasarkan ras budaya, kelas
social, kemampuan dan ketidak mampuannya.
3. Mengajarkan
kepada siswa ketrampilan bekerja sama dan kolaborasi.
C. Karakteristik
Cooperative Learning
Pada hakekatnya
cooperative learning sama dengan kerja kelompok, akan tetapi tidak. Setiap
kerja kelompok dikatakan cooperative learning, Bennet (1995) menyatakan ada
lima unsur dasar yang dapat membedakan cooperative learning dengan kerja
kelompok, antara lain:
1.
Positive
Independence (saling ketergantungan positif) yaitu
hubungan timbal balik yang didasari danya kepentingan yang sama.
2.
Personal Responsibility
(tanggung jawab perseorangan)yaitu mengenal materi pelajaran dalam anggota
kelompok. Sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya membutuhkan
keluwesan.
3.
Face to Face
Promotive Interaction (interksi promotif) yaitu interaksi
yang langsung terjadi antara siswa tanpa adanya perantara.
4.
Interpersonal
Skill (komunikasi antar anggota) yaitu menciptakan
hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok dan memelihara
hubungan kerja yang efektif.
5.
Group Processing
(pemrosesan
kelompok) yaitu meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah.
D.
Model-model Cooperative learning
Dalam cooperative
learning terdapat beberapa variasi model yang di terapkan di antar lain :
1.
Jigsaw
Yaitu mendorong siswa
aktif dan saling membatu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapaian
prestasi yang maksimal dan penyelenggarannya di bentuk secara bertahap.
2.
Group
Invesgation
Pada model ini siswa di
bagi ke dalam kelompok yang b eranggotakan 4-5 orang. Daln pada model ini siswa
dapat memilh sub topic yang ingin mereka pelajari atau di tentukan oleh guru.
3.
Listening Team
Pada model ini di awali
dengan pemaparan materi pelajaran oleh guru, kemudian guru membagi kelas
menjadi kelompok-kelompok dan kelompokmempunyai peran masing-masing.
F. Sintak Model
Pembelajaran Cooperative Learning
Sintak Model
Pembelajaran Cooperative Learning terdiri dari 6 fase :
1. Present Goals and Set
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik.
2. Present Information
Menyajikan informasi.
3. Organize Student Into Learning Team
Mengngordinasi pesrta didik ke dalam tim-tim
belajar.
4. Assist Team Work and Study
Membatu kerja tim.
5. Teast on the Material
Mengevaluasi.
6. Provide Recognition
Memberikan pengakuan atau penghargaan.
Langkah-langkah pembelajaran cooperative learning
dapat dituliskan dalam table sebagai berikut :
|
Langkah
|
Indikator
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Langkah 1
|
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
|
|
Langkah 2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa
|
|
Langkah 3
|
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar
|
Guru menginformasikan pengelompokan siswa
|
|
Langkah 4
|
Membimbing kelompok belajar
|
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa
dalam kelompokkelompok belajar
|
|
Langkah 5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
pembelajaran yang telah dilaksanakan
|
|
Langkah 6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru memberi penghargaan hasil belajar
individual dan kelompok.
|
G. Model Evaluasi belajar Cooperative Learning
Dalam
model pembelajaran cooperative learning terdapat tiga model evaluasi, ketiga
model evaluasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Model Evaluasi Kompetisi
Pada
sistem peringkat jelas menanamkan jiwa kompetitif, karena sejak masa awal
pendidikan formal, siswa dipacu agar bisa menjadi lebih baik dari teman-teman
sekelas, sehingga siswa yang jauh melebihi kebanyakan siswa yang dianggap
berprestasi, yang kemampuannya berada di bawah rata-rata kelas dianggap gagal
atau tidak berprestasi.
2.
Model Evaluasi
Individual
Dalam
sistem ini, sistem siswa belajar dengan pendekatan dan kecepatan yang sesuai
dengan kemampuan mereka sendiri. Anak didik tak bersaing dengan siapa-siapa,
kecuali bersaing dengan diri mereka sendiri. Teman-teman satu kelas dianggap
tidak ada karena jarang interaksi antar siswa di kelas. Berbeda dengan sistem
penilaian peringkat, dalam penyajian individual guru menetapkan standar untuk
setiap murid.
3.
Model Evaluasi Cooperative Learning
Sistem
ini menganut pemahaman homohomini soclus. Falsafah ini menekankan
saling ketergantungan antar makhluk hidup. Kerjasama merupakan
kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Prosedur sistem
penilaian Cooperative Learning diantaranya adalah
tanggung jawab pribadi dan kelompok. Jadi siswa mendapat nilai pribadi dan
nilai kelompok.
H. Pengelolaan Kelas Menurut Model Cooperative
Learning
- Pengelompokan
a.
Kelompok homogen (Ability grouping)
adalah praktik memasukkan beberapa siswa dengankemampuan yang setara dalam
kelompok yang sama.
- Pengelompokan heterogenitas (kemacam-ragaman),dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosioekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis.
- Semangat gotong-royong
Dalam proses pembelajaran ini, agar berjalan secara efektif maka semua anggota
kelompok hendaknya mempunyai semangat bergotong royong yaitu dengan cara membina
niat dan semangat dalam bekerja sama yaitu dengan beberapa cara: a. Kesamaan
Kelompok. b. Identitas Kelompok c. Sapaan dan Sorak Kelompok.
3. Penataan
ruang kelas
Dalam hal ini keputusan guru dalam penataan ruang disesuaikan dengan kondisi
dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan
adalah :
a.Ukuran ruang kelas
b. Jumlah siswa
c.Tingkat kedewasaan siswa
f. Pengalaman guru dan siswa dalam
melaksanakan metode pembelajaran gotong royong.
E. Peran Guru dalam
Cooperative Learning
Guru dalam cooperative
learning mempunyai beberapa peran untuk melakukannya antara lain:
1. Sebagai Fasilitator
Peran guru sebagai
fasilitator harus mempnyai beberapa sikap sebagai berikut:
a. Mampu menciptakan
suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan
b. Membantu dan
mendorong iswa untuk mengingkapkan dan menjelaskan keinginan dan
pembicaraannya.
c. Membantu kegiatan
dan menyiapkan sumber atau alat.
d. Membina siswa agar
setiap siswa, setiap orang menjadi sumber yang bermanfaat bagi yang lainnya
e. Menjelaskan tujuan
kegiatan pada keluarga dan mengatur jalannya dalam bertukar pendapat.
2. Sebagai Mediator
Guru berperan untuk
menjembati atau mengaitkan materi pelajaran yang sedang di bahas melalui
cooperative learning dengan permasalahan yang nyata di temukan di lapangan.
3. Sebagai
Director-Motivator
Guru beperan dalam
membimbing serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi
tetapi tidak memberikan jawaban.
4. Sebagai Evaluator
Guru berperan dalam
menilai kegiatan belajar mengajar yang sedang berlamgsung.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
·
Suprioso, Agus.
2009 .Cooperative Learnig Teori dan Aplikasi PAIKEM jogyakarta : Pustaka
pelajaran.
·
Isjoni,
2007.Cooperative Learning: Efektivitas pembelajaran kelompok,Bandung :
Alfabeta
·
Lipton: Laura
&Debora Hubble, 2005, menumbuh kembangkan kemandirian belajar, Bandung
: Nuansa.
·
http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/cooperative-learning.html
·
Slavin, Robert E.2005.Cooperative Learning Teori,
Riset, dan Praktik diterjemahkan oleh Narilita Yusron.Bandung : Penerbit
Nusa Media.
Langganan:
Komentar (Atom)